Ketua Komunitas Hidroponik Purwakarta Eni Lestiorini saat mengecek tanaman hidroponik miliknya, Kamis (24/2/2019). (Dede Nurhasanudin/ayopurwakarta.com) PURWAKARTA KOTA, AYOPURWAKARTA.COM — Bercocok tanam dengan cara hidroponik mungkin masih terdengar awam di kalangan masyarakat umum, termasuk di Kabupaten Purwakarta. Sebagian besar masyarakat belum mengetahui cara dan keunggulan dari sistem bercocok tanam ini.

Eni Lestiorini, perempuan asal Purwakarta, telah tergerak hatinya untuk mengembangkan hidroponik di kotanya. Ia mengaku mencoba sistem budidaya hidroponik setelah ia menekuni hobinya bercocok tanam.

“Iya awalnya cuma hobi saja,” ujar Teteh Rini sapaan akrabnnya, Kamis (14/2/2019).

Hidroponik telah menjadi salah satu solusi berkebun di tengah keterbatasan lahan, terutama di daerah perkotaan yang penduduknya cukup padat.

Menurutnya, bercocok tanam dengan cara hidroponik selain bisa digunakan untuk menyalurkan hobi, juga dapat dimanfaatkan untuk meraup keuntungan dari hasil tumbuhan yang ditanam.

Mengenai hasil yang diperoleh, Rini menjelaskan bahwa tanaman hidroponik memiliki kualitas dan bobot lebih unggul, karena perawatan yang diberikan benar-benar maksimal dibandingkan bercocok tanam secara konfensional.

Perbedaan kedua yaitu tanaman hidroponik tidak menggunakan pupuk pestisida kimia, melainkan pupuk nabati, untuk pembunuh hama selama penanaman. Perbedaan ketiga adalah, air pengganti tanah diberikan vitamin abenic sehingga membuat tanaman hidroponik lebih segar.

“Setidaknya ketiga alasan itu saya merasa harus membudidayakan bercocok tanam hidroponik dan mengajak ke semua kalangan untuk bercocok tanam hidroponik terutama masyarakat di perkotaan,” kata perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Hidroponik Purwakata itu.

Ia mengatakan, semua tumbuhan dapat ditanaman secara hidroponik. Ia sendiri telah menanam selada merah, hijau, pakcoy, saledri, kale, dakota, cabe merah dan melon di lahan seluas 300 meter miliknya di Kampung Karang Anyar, RT 10 RW 10, Kelurahan Nagri Tengah, Kecamatan Purwakarta Kota.

“45 hari sudah bisa dipanen kecuali buah-buahan, dan saya tanam itu alasannya karena pasaran tanaman itu lebih banyak. Hasil panen saya jual secara on-line atau ke tetangga,” kata Rini.

Rini yang telah menggeluti budidaya tanaman secara hidroponik selama lima tahun ini juga sering memberikan materi mengenai hidroponik, baik di kampus-kampus atau dalam acara seminar.

Ia mengatakan, saat ini komunitas hidroponik yang dipimpinnya telah memiliki 1. 500 orang anggota yang tersebar di 17 Kecamatan yang ada di Purwakarta. “Kalau mau gabung atau berkunjung ke kebun saya silakan kita sama-sama belajar bercocok tanam hidroponik,” ujar dia.