Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur saat memindahkan media Rock Wool ke pipa PVC untuk tanaman hidroponik. (Foto: Dok. Nova Anggilia)

Mahasiswa jurusan Agroteknologi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur memilih metode hidroponik NFT sebagai tema kuliah kerja nyata (KKN). Kelompok KKN ini beranggotakan lima orang, salah satunya ialah Nova Putri Anggilia Prayitno.

Metode NFT ini dipraktekkan untuk membantu warga perumahan Pucang Indah, Sidoarjo. NFT sendiri merupakan singkatan dari Nutrien Film Technique. Tanaman hidroponik dari hasil NFT lebih besar dan segar. Tentunya jika dibandingkan dengan metode DFT (Deep Flow Technique).

“Kami memilih menggunakan NFT karena hasil tanamannya lebih besar dan segar jika dibanding DFT. Selain itu, NFT sesuai dengan media paralon yang digunakan warga,” kata Nova kepada Ngopibareng.id pada Selasa, four Agustus 2020.

Nova menyebut, tanaman hidroponik NFT memungkinkan jumlah oksigen yang diserap tanaman lebih besar. Sehingga, persentase kebusukan tanaman rendah. Selain itu, lantaran menggunakan media air tanaman memiliki resiko kecil tertular jamur ataupun bakteri.

Mahasiswa UPN Veteran Jatim saat menanam benih di Rock Wool. (Foto: Dok. Nova Anggilia) Menggunakan Media Rock Wool
Sebelum tanaman diletakkan di media pipa PVC yang sudah jadi, benih akan disemai di Rock Wool. Rock Wool adalah media tanam khusus tanaman hidroponik. Rock Wool lalu dipotong berbentuk kotak dan diisi 2-5 benih biji sawi, bayam, dan kangkung.

Benih ini lantas disimpan di ruang gelap dan tertutup dengan tetap dijaga kelembabannya. Rock Wool dan benih tanaman pun mudah di dapat. Keduanya tersedia di toko tanaman.

“Di Rock Wool itu bisa menyimpan kadar air dalam jumlah besar karena seratnya kecil. Benih sendiri butuh media yang lembab agar bisa berkecambah. Saat berusia satu minggu dan terdapat daun kedua, tanaman baru dipindah ke pipa PVC,” ujarnya.

Sawi, bayam, dan kangkung pun siap dipanen setelah satu bulan ditanam. Perawatanya sendiri cukup mudah. Rock Wool yang sudah dipindahkan ke PVC hanya perlu dialiri nutrisi. Nutrisi ini dimasukkan ke dalam timba air yang sudah terhubung dengan paralon.

Nutrisi yang dimaksud di antaranya campuran dari nutrient jenis AB combine. Seperti Nitrogen, Phospor, Kalium, Magnesium Sulfat, dan Zinc.

“Perawatannya mudah tinggal nunggu dan mengamati saja. Ini paralonnya kan sudah jadi, nanti nutrisi di dalam bak akan dilairkan ke paralon. Nutrisinya terdiri dari AB combine, nutrisi itu cocok untuk NFT,” tambah mahasiswa semester 6 itu.

Paralon PVC untuk tanaman hidroponik. (Foto: Dok. Nova Anggilia) Perangkap Hama Kuning
Kendari terbebas dari jamur dan bakteri, tidak menutup kemungkinan tanaman hidroponik bebas dari hama. Untuk mengantisipasi, Nova cs merakit perangkap hama sederhana. Butuh waktu 30 menit untuk merangkai perangkap yang dipelajari di bangku kuliah.

Perangkap ini terbuat dari mika kuning dan lem tikus. Warna kuning dipilih lantaran bersarkan riset hama menyukai warna itu.

“Kami juga membuat yellow trap atau perangkap hama dari pelajaran di kuliah. Buatnya cuma perlu mika kuning dan lem tikus, dari penelitian hama suka warna kuning. Kami lalu memasangnya di dekat paralon,” beber mahasiswa asli Sidoarjo itu.

Penulis : M. Rizqi

Editor : Yasmin Fitrida