Kamu pernah dengar kata urban farming? Sebuah konsep baru yang memindahkan pertanian konvensional menjadi ke pertanian perkotaan. Salah satu bentuk praktiknya adalah pertanian hidroponik.

Sebagaimana namanya, hidroponik adalah sistem pertanian yang dilakukan dengan menggunakan media tanam air. Biasanya, dilakukan di pekarangan rumah. Namun ada juga yang skalanya besar.

Di artikel kali ini, kita akan bahas soal hidroponik. Mulai dari pengertian, jenis tanaman dan tantangannya. Kamu perlu membaca ini, karena peluang usaha hidroponik dan permintaan akan sayur organik mengalami peningkatan akhir-akhir ini. Berikut ulasannya!

Apa Itu Hidroponik?
Kita akan mulai ulasan tentang hidroponik dari pengertiannya. Mungkin kamu pernah melihat tapi tidak tahu namanya, atau sebaliknya. Jadi, untuk lebih mudah memahami, berikut akan kita bahas pengertiannya.

Pengertian ini akan dimulai dari pernyataan beberapa praktisi dan penulis materi terkait hidroponik, Diana Rochintaniawati. Menurutnya, hidroponik adalah suatu istilah yang digunakan untuk bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah.

Tanaman dapat tumbuh di pot ataupun wadah lainnya dengan menggunakan air dan atau bahan porus lainnya seperti pasir, kerikil, pecahan batu ambang, dan lain sebagainya.

Dalam sebuah jurnal disebutkan, Hidroponik berasal dari dua kata, hydro yang berarti air dan phonic yang berarti pengerjaan.

Sehingga, dari pengertian dua kata tersebut, kita dapat mengartikan hidroponik sebagai sistem penanaman atau budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah, melainkan menggunakan media air yang berisi larutan nutrient.

Pengertian lain menyebutkan, hidroponik adalah budidaya atau cara menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah. Sistem penanaman ini menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada budidaya dengan tanah.

Sejarah Sistem Pertanian Hidroponik
Sistem pertanian ini, sebetulnya bukan sistem yang baru. Beberapa literatur telah mencatat sejarah pertanian, khususnya metode pertanian yang mengguanakan air. Berikut ini ulasannya!

Menanam menggunakan media air atau sistem hidroponik, telah dikenal sejak sangat lama, yaitu ketika Taman Babilonia ada.

Selain itu disebutkan juga jika manusia purba telah melakukan pencampuran nutrisi pada air untuk kemudian diberikan kepada tanaman dan budidaya tumbuhan mereka, khususnya semangka, kala itu.

Pada tahun 1936, istilah hidroponik lahir. Istilah ini diberikan untuk hasil yang ditemukan oleh Agronomis asal Universitas California, USA, Dr. WF. Gericke. Sejak saat itu, hidroponik tidak lagi hanya dikenal dalam skala laboratorium, tetapi dengan teknik yang sederhana dapat dikerjakan oleh siapa saja, termasuk ibu rumah tangga.

Sejarah lain menyebutkan pengaplikasian hidroponik. Jepang pasca terkena serangan dan kalah dari sekutu tanahnya tanus akibat bom atom. Sehingga pada tahun 1950 sistem hidroponik diajarkan dan diterapkan secara masif. Kemudian diikuti oleh negara seperti Iran, Bahrain dan Irak.

Keterbatasan lahan menjadi salah satu sebab paling kuat penggunaan sistem hidroponik. Penanaman tumbuhan melalui sistem hidroponik dirasa cukup efektif, mudah dan efisien. Hal ini memungkinkan siapapun bisa menjadi petani tumbuhan hidroponik.

Kelebihan dan Kekurangan Sistem Hidroponik
Sebagaimana hal-hal lainnya, praktik dan pengaplikasian sistem hidroponik tentunya juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Bagian ini akan membahas keduanya. Hal ini perlu kamu ketahui untuk bekal sebelum kamu memutuskan untuk bertani dengan sistem hidroponik.

Kelebihan
Pertama, kita akan mulai bahas dari kelebihannya. Berikut ini adalah beberapa kelebihan hidroponik yang bisa kita pelajari, yaitu:

* Keberhasilan tanaman untuk tumbuh dan berkembang lebih terjamin
* Praktis dalam melakukan perawatan
* Pemakaian pupuk lebih hemat (efesien)
* Tanaman yang rusak lebih mudah diganti
* Tidak membutuhkan tenaga kerja kasar yang banyak
* Proses penanaman mmemiliki standarisasi
* Tanaman akan terjaga kebersihannya
* Hasil produksi lebih kontinu dan lebih tinggi
* Harga jual tanaman hidroponik lebih tinggi dibandingkan non-hidroponik
* Beberapa tanaman dapat dibudidayakan di luar musim (yang pada umumnya dilakukan oleh petani yang menggunakan media tanah)
* Risiko yang dimiliki kecil, untuk dapat terkena erosi, kebanjiran atau kekeringan
* Dapat dibudidayakan di lahan sempit, seperti atap rumah atau halaman yang kecil (Roidah, 2014)
* Tanaman dapat timbuh di tempat yang tidak seharusnya

Kekurangan
Berikutnya adalah kekurangan dari sistem hidroponik yang bisa menjadi pertimbangan dan kita siasati saat kita memulainya. Berikut ini adalah kekurangannya:

* Investasi awal yang mahal
* Membutuhkan keahlian khusus untuk menimbang dan meramu bahan kimia
* Ketersediaan dan pemeliharaan perangkat hidroponik cukup sulit
* Membutuhkan ketelitian ekstra, hal inindilakukan karena kadar nutrisi tanaman hidroponik butuh diperhatikan secara ekstra
* Pada kultur substrat, kapasitas memegang air dalam media substrat lebih kecil daripada media tanah, sehingga akan menyebabkan pelayuan tanaman yang cepat dan stres yang serius.

Substrat merupakan teknik hidroponik yang memberi air dan nutrisi dalam bentuk tetesan. Tetesan tepat diberikan pada daerah perakaran tanaman agar tanaman dapat langsung menyerap air dan nutrisi. Itulah kelebihan dan kekurangannya.

Macam-macam Sistem dalam Pertanian Hidroponik
Meskipun sebelum-sebelumnya kita telah menyebutkan bahwa hidroponik adalah salah satu sistem pertanian. Namun ada beberapa sub sistem lagi dalam pertanian ini yang bisa kita gunakan. Kita bisa sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan kita. Berikut ulasannya!

Pertama, Sistem Aeroponik
Aeroponik berasal dari dua kata, yaitu aero yang berarti udara dan phonic yang berarti cara budidaya. Sehingga, aeroponik adalah sistem budidaya tanaman yang menggunakan air dan udara.

Perlu kamu tahu, sistem ini merupakan sistem yang paling baik dalam proses budidaya dan penanaman sayuran. Penggunaan air dan udara cukup dapat menggantikan penggunaan tanah.

Pada sistem ini, tanaman diletakkan pada posisi yang tinggi, hingga akar tanaman terlihat menggantung. Prinsip kerja sistem ini adalah dengan memberikan air dan nutrisi pada tanaman menggunakan sistem penguapan atau kabut.

Pengkabutan berasal dari sebuah pompa air yang diletakan di bak penampungan dan disemprotkan dengan menggunakan nozzie. Sehingga nutrisi yang diberikan akan lebih mudah diserap oleh akar tanaman yang menggantung.

Kedua, Sistem Nutrient Film Technique (NFT)
Ini merupakan sistem baru dalam proses penanaman hidroponik di Indonesia. Sistem ini sangat cocok untuk diaplikasikan di tanah yang kurang subur. Selain itu juga cocok diaplikasikan di dataran tinggi maupun rendah.

Intinya adalah, sistem ini dapat memberikan hasil panen yang berkualitas. Jika dibedakan dengan sistem aeroponik, sistem NFT tidak meletakkan akar pada permukaan air yang dangkal, melainkan air dapat mengalami sirkulasi dan kandungan nutrisi yang cukup. Akar berada dalam air, sehingga kebutuhan nutrisinya selalu terjaga.

Keunggulan dan kelemahan sistem ini ada pada pasokan listrik. Aliran listrik yang membantu pergerakan air sangat berpengaruh. Jika aliran listrik mati, maka akar akan cepat kering dan kekurangan nutrisi. Sedangkan untuk kelebihannya, sistem ini dapat memberikan nutrisi lebih maksimal.

Ketiga, Sistem Drip System
Ketiga adalah sistem drip atau sistem tetes, yaitu sistem hidroponik yang banyak diaplikasikan di rumah-rumah yang memiliki tujuan utama untuk menyalurkan hobi.

Namun, ini tidak menutup kemungkinan kalau kamu mau mengkomersialisasikannya. Cara kerjanya terbilang sederhana, karena tidak membutuhkan begitu banyak perlengkapan serta lebih multifungsi dan efektif.

Ia menerapkan tetesan larutan nutrisi ke setiap akar tanaman dengan tujuan agar lembab dan basah. Untuk bentuknya sangat variatif, karena dapat dibuat tergantung dengan kreativitas dan inovasi dari masing-masing petani atau pelaku budidaya.

* Isi form berikut ini untuk mendapatkan demo gratis aplikasi HRIS hari ini.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
* This field is for validation functions and should be left unchanged.

Keempat, Sistem Pasang Surut
Keempat adalah sistem hidroponik yang memberikan air serta oksigen kepada tanaman melalui pemompaan bak penampung yang nantinya akan membasahi akar, atau disebut pasang.

Kemudian selanjutnya nutrisi kembali ke bak penampungan, dan ini disebut surut. Siklus pasang surut tersebut dapat diatur sesuai kebutuhan.

Cara kerjanya adalah dengan memasukkan pompa ke dalam cairan nutrisi. Selanjutnya akan ada penanda waktu yang dapat diatur dan akan mempengaruhi pasang surut airnya. Karena ini akan mempengaruhi pemompaan air dan nutrisi atau berpengaruh pada pasang surut air.

Khusus untuk sistem ini, dapat diaplikasikan pada hidroponik dengan media yang lebih adalah tanaman akan memperoleh nutrisi berupa air an oksigen secara periodik. Oksigen yang dibawa oleh pompa juga memiliki kualitas yang baik.

Namun kekurangannya adalah, biaya yang dikeluarkan akan lebih besar, karena membutuhkan pasokan listrik yang lebih banyak.

Kelima, Sistem Deep Flow Technique (DFT)
Berikutnya adalah sistem DFT. Maksudnya, sistem ini akan meletakkan akar tanaman pada kedalaman skitar four-6 cm. Pengaplikasian sistem ini tidak jauh berbeda dari segi tenaga teknologi dengan sistem lainnya, yaitu tetap memerlukan paskan listrik.

Tujuan penggunaan listrik adalah untuk mensirkulasikan air ke dalam talang-talang dengan menggunakan pompa.

Keunggulan sistem ini adalah pada saat listrik padam, kebutuhan nutrisi untuk tanaman tetap tersedia karena sistem nutrisinya diatur sampai 6 cm. Sedangkan kekrangannya adalah memerlukan kebutuhan nutrisi yang lebih banyak apabila dibandingkan dengan sistem NFT.

Disampig kelima sistem ini, ada beberapa sistem lagi yang terus dikembangkan. Kamu juga mungkin saja menjadi salah seorang yang menemukan sistem baru. Satu hal yang paling penting, pilihlah sistem yang paling mudah dan sesuai dengan kebutuhan serta kemampuanmu.

Media Tanam Hidroponik
Sekarang, kita akan masuk ke pembahasan berikutnya, yaitu tentang media tanam hidroponik. Mulai dari ciri-ciri hingga apa saja bahan yang bisa kamu manfaatkan menjadi media tanam hidroponik.

Hal yang akan kita bahas pertama adalah soal ciri-ciri media tanamnya, yaitu:

* Bersifat mudah menyerap air yang berlebih atau poros
* Memiliki struktur yang gembur, subur dan mampu menyimpan persediaan air, yang selanjutnya dapat dialirkan ke tanaman
* Tidak mengandung NaCI atau garam atau kadar salinitasnya sangat rendah
* Tingkat keasaman media tanam mencapai titik netral atau setidaknya pH antara 6-7
* Tidak mengandung suatu jenis organisme yang menimbulkan hama atau penyakit
* Mempunyai setidaknya kandungan kapur atau unsur kalium, sebagai nutrisi bagi tanaman

Sekarang, kita akan bahas soal bentuk-bentuk atau bahan apa saja yang bisa digunakan sebagai media tanam pertanian hidroponik.

* Mineral Wood atau Rockwool, merupakan media tanam sejenis busa dengan serat yang halus dan memiliki beban yang ringan.
* Arang sekam, yaitu media tanam berupa sekam bungkus padi yang telah dibakar.
* Hydroton, adalah media tanam yang berasal dari lempung yang dipanaskan. Media ini memiliki pH yang stabil dan netral.
* Serbuk kelapa atau yang biasa disebut dengan cocopeat merupakan media tanam yang netral dan berdaya serap tinggi terhadap air.
* Spons, bahan ini bisa digunakan karena dapat mengairkan air dengan baik.
* Akar pakis, media yang sistem kerja dan bentuknya menyerupai arang sekam.
* Hydrogel, media tanam berupa gel berwarna yang dapat menyimpan air dengan baik.
* Expended Clay, merupakan media tanam yang berasal dari tanah liat.

Jenis Tanaman
Kalau sudah sampai pada penjelasan terkait media tanam, itu berarti kamu sudah semakin siap untuk memulai pertanian ini. Tapi, mungkin kamu masih bingung, tanaman apa yang akan kamu budidayakan. Kalau begitu, berikut akan kita bahas.

Tanaman Sayur
Umumnya orang akan membudidayakan tanaman sayur saat melaukan pertanian hidroponik. Ada beberapa jenis sayuran yang bisa kamu pilih dan kamu tanam, diantaranya adalah:

* Selada air
* Bayam
* Sawi
* Brokoli
* Kangkung atau Kale
* Daun kemangi
* Daun seledri

Tanaman Buah
Jenis tanaman lain yang bisa kamu tanam adalah buah-buahan. Kalau kamu tertarik, kamu bisa menanam beberapa jenis tanaman ini:

* Tomat
* Timun
* Paprika
* Strawberry
* Cabai
* Buncis
* Terong
* Pare

Pemasaran Produk Hidroponik
Pasca membaca penjelasan ini, kamu mungkin semakin tertarik untuk berbisnis pertanian, khususnya dengan sistem hidroponik. Kalau ya, kamu perlu tahu juga nih cara pemasaran produk-produk hidroponik.

Bekerjasama dengan Kelompok Tani
Untuk bisa menjual produk ke koperasi, biasanya petani harus daftar terlebih dahulu menjadi anggota. Penjualan ke koperasi tani akan memudahkan kamu untuk melakukan transaksi, sebab kamu bisa menjual hasil hidroponik tanpa ada batasan jumlahnya meskipun harga belinya tidak sebagus di pasaran.

Memasok Hasil Pertanian ke Restoran atau Usaha Katering
Cara memasarkan produk hidroponik semacam ini akan memudahkan kamu untuk menjual hasil hidroponik. Meskipun hanya menghasilkan sedikit, tapi ini memiliki kemungkinan untuk dilakukan secara berkelanjutan. Karena usaha-usaha ini juga terus membutuhkan pasokan sayur atau buah.

Menawarkan Hasil Panen ke Pasar atau Menjualnya secara Langsung
Terakhir, kamu bisa melakukan penjualan dengan menawarkan hasil panenmu ke pasar tradisional atau pasar tumpah. Kamu juga bisa menjualnya secara langsung, baik itu di dekat perkebunanmu, menawarkannya satu persatu, atau melalui laman media sosial.

Bagaimana, kamu tertarik untuk menekuni bisnis ini, atau mau mencobanya dulu untuk sekadar hobi. Keduanya tidak salah, yang terpenting kamu sudah mau memulai.

Kalau nantinya kamu memiliki bisnis ini, kamu akan membutuhkan beberapa karyawan yang akan membantu. Ada mereka yang mengurus pemberian nutrisi, ada juga yang mengatur pemasaran.

Untuk mempermudah pekerjaanmu membayar gaji mereka, kamu bisa gunakan JojoPayroll. Sebuah aplikasi dari Jojonomic yang akan membantumu membayarkan gaji karyawan dengan mudah. Karena semuanya dapat dilakukan dengan gadgetmu. Nantinya pekerjaanmu akan lebih efisien. Selamat mencoba!