-Apresiasi Bagi Para Pahlawan Pangan-

KASURA 1.0 | HIMAREKTA ‘Agrapana’ ITB

Hari Tani Nasional

Hari Tani Nasional merupakan bentuk peringatan dalam mengenang sejarah perjuangan kaum petani serta membebaskannya dari penderitaan. Hari Tani Nasional dirayakan setiap tanggal 24 September sebagai pengingat ditetapkannya Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960).

Hari Krida Pertanian

Hari Krida Pertanian merupakan hari besar yang diperingati setiap tanggal 21 Juni oleh Masyarakat Pertanian Indonesia. Penetapan ini didasarkan atas pertimbangan dari segi astronomis dimana pada tanggal tersebut matahari berada pada garis 23,50 lintang utara. Posisi ini menyebabkan terjadinya pergantian iklim seiring dengan perubahan-perubahan usaha pertanian, termasuk kegiatan panen untuk sejumlah komoditas pertanian. Maka dari itu bulan Juni merupakan bulan penting bagi para pelaku usaha pertanian.

Memaknai Hari Tani Nasional dan Krida Pertanian

Peringatan Hari Tani Nasional dan Krida Pertanian memiliki makna untuk mengenang sejarah perjuangan kaum petani. Hari ini menjadi tonggak sejarah bangsa dalam memandang arti penting petani dan hak kepemilikan atas tanah, serta keberlanjutan agraria di Indonesia.

Kesejahteraan petani

Sebagai negara agraris, proporsi terbesar penduduk Indonesia berada di sektor pertanian. Pelaksanaan pembangunan perekonomian nasional, pedesaan, dan perkotaan juga telah banyak menunjukkan peningkatan. Namun masalah kemiskinan masih belum terpecahkan. Faktanya banyak orang kaya yang berasal dari petani dan banyak orang miskin yang juga dari petani. Kegiatan pembangunan telah berhasil meningkatkan produksi pertanian namun belum cukup mampu meningkatkan pendapatan, kesejahteraan, dan penanggulangan kemiskinan di pedesaan (Rachmat,2013).

Untuk menilai perkembangan kesejahteraan petani, diperlukan alat ukur atau indikator. Salah satu indikator yang digunakan untuk menilai tingkat kesejahteraan petani adalah Nilai Tukar Petani(NTP) atau Farmer Terms of Trade(FTT).Nilai NTP dihitung darirasio harga yang diterima petani dan harga yang dibayar petani, sehingga NTP dinilai menggambarkan ukuran kemampuan daya beli/daya tukar petani terhadap barang yang dibeli oleh petani (Rachmat,2013).

Permasalahan yang Berhubungan dengan Kesejahteraan Petani A. Permodalan

Masalah permodalan merupakan permasalahan paling mendasar yang sering dihadapi petani. Keterbatasan modal membuat kuantitas dan kualitas hasil yang didapat petani menjadi tidak maksimal. Masalah permodalan yang sering dihadapi petani meliputi:

1.Kesulitan Terhadap Prosedur Peminjaman yang Rumit

Banyak petani yan menganggap prosedur peminjaman ke financial institution itu rumit, sehingga kebanyakan petani kecil telah termindset apabila ingin mudah pinjam kepada rentenir saja

Solusi : Prosedur butuh didampingi oleh dinas pertanian dan dapat diakses on-line sehingga petani kecil lebih merasa lebih terjamin. Sebagai mahasiswa, bisa bekerjasama dengan bidang keilmuan lain untuk membuat platform/aplikasi yang prosedurnya tidak rumit sehingga petani-petani keciil lebih mudah mengasksesnya

* Rendahnya jumlah petani yang mengakses kredit dan asuransi

Petani sebenarnya telah bisa mengakses berbagai platform untuk membantu dalam masalah permodalan. Masalahnya kebanyakan petani-petani kecil masih belum menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut

Solusi : Sebenarnya asuransi bagi petani sudah ada termasuk asuransi apabila petani kecil tersebut mengalami gagal panen. Subsidi pupuk, benih dan pestisida sebenaranya juga sudah banyak dilakukan pemerintah. Sehingga dibutuhkan feedback anatar petani dan pemerintah tersebut. Sebagai mahasiswa,misal mahasiswa yang himpunannya memiliki desa binaan bisa membantu sosialisasi kepada masyarakat petani terkait fasilitas-fasilitas yang sudah diberikan kepada pemerintah

* Rendahnya tingkat kepercayaan financial institution.

Kebanyakan financial institution tidak mau meminjamkan modal kepada petani kecil karena petani tidak memiliki jaminan untuk mengembalikan uang.

Solusi : Melakukan sosialisasi dan mempertemukan peminjam modal dan petani kecil sehingga mampu menemukan titik tengah petani dan pemberi modal. Pemodal lebih yakin kalau petani memiliki jaminan.

Kesimpulan : Petani membutuhkan akses permodalan yang cepat,mudah dan berpihak kepada petani.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 telah mengatur hukum agraria. Dalam UndangUndang ini menyatakan, peruntukan penggunaan bumi untuk keperluan pertanian lebih didahulukan daripada untuk keperluan perkembangan industri, transmigrasi, dan pertambangan. Namun realitanya lahan pertanian dan sawah irigasi pada tahun 2017 mengalami penurunan dari tahun 2016 dikarenakan :

1. Alih Fungsi Lahan

Permasalahan dari lahan hutan menjadi pertanian, dan dari lahan pertanian menjadi lahan industri/perumahan

Solusi : Harus memperhatikan fungsi dan tujuan masing-masing lahan tersebut. Setelah itu dilakukan evaluasi lahan terkait kemampuan dan kesesuaian lahan apakah cocok dengan lahan hutan,pertanian maupun industri. Pemangku kebijakan juga memiliki peran penting terkait permasalahan ini khusunya dalam mengatur RUU pertanahan dan UUPA Penguasaan lahan yang tidak sebanding antara petani gurem (kurangdari 0,5 Ha) dan petani besar ataupun perusahaan perkebunan memberikan kesenjangan sosial. Solusi : Penegakan UU Agraria dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil. UUPA 1960 peraturannya masih dianggap common, belum ada peraturan khusus karena UUPA hanya menyalin perpres. Sehingga pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam kebijakan permasalahan penguasaan lahan.

Kurangnya pembangunan saluran irigasi dan banyaknya saluran irigasi yang rusak mengakibatkan menurunya daya dukung bagi pertanian. Kerusakan ini diakibatkan karena erosi, kerusakan DAS, dan kurangnya pemeiharaan

Perubahan iklim dan cuaca yang tidak beraturan mengakibatkan banyak usaha tani yang mengalami kegagalan panen akibat banyaknya produk pertanian yang terserang hama dan penyakit, hasil panen busuk dan lain sebagainya

Teknologi pertanian di Indonesia sudah berkembang dari proses produksi di hulu hingga hilir. Berbagai macam prototipe alat dan mesin pertanian telah dihasilkan oleh Kementerian Pertanian. Di era revolusi industri four.zero, petani dituntut untuk memanfaatkan teknologi digital dalam mengelola usahatani nya. Namun akses terhadap teknologi yang terbatas dan minimnya pengetahuan menyebabkan petani sulit untuk menyesuaikan diri dengan teknologi yang ada Namun petani-petani kecil masih memiliki kendala dalam mengakses teknologi tersebut, mulai dari :

1. Kendala biaya yang dirasa mahal

Banyak petani kecil yang terkendala dana dalam menggunakan teknologi untuk mengembangkan usahanya. Selain permodalan, produk yang keluar tidak mempertimbangkan penggunanya. Contohnya harus menggunakan smartphone dll, sehingga teknologi belum tepat sasaran.

* Kurangnya kapabilitas petani untuk memanfaatkan teknologi

Kebanyakan petani kecil masih buta terhadap teknologi, walaupun demikian sekarang banyak anak muda yang tertarik untuk berkecimpung di bidang pertanian. Permasalahan yang perlu ditekankan disini adalah banyaknya teknologi dan bantuan yang diberikan oleh pemerintah belum tepat guna dan tepat sasaran. Sensor belum dipakai karna petani belum dapat menjangkau teknologi tersebut. masalah lain adalah petani kebanyakan di daerah pedalaman, ada masalah di jaringan. Ketika anak muda yg mempunyai ide/teknologi, kendalanya adalah menganggap hanya selesai disitu. tidak ada pengawasan dan pembinaan secara terus menerus. Contoh kita kasih display home kepada petanu, saat dicek beberapa waktu kemudian, malah ditinggalkan oleh petani tersebut karena ada kebingungan ditengah-tengah prosesnya. Teknologi yang dihadirkan tidak tepat sasaran, bandingkan saja dengan aset yang dimiliki oleh petani kecil. Sensor, tidak bisa dimanfaatkan sepenhnya dan kurang tepat untuk permasalahan saat ini. Akar masalah adalah bagaimana ketika penyelenggaraan bantuan dari pemerintah tidak menyerap keluh kesah masyarakat.

Solusi :

1. Pemerintah mengadakan P4S untuk mencerdaskan dan memberdayakan petani yang primitif sehingga kita bisa mengarahkan petani bukan menyalahkan apabila terjadi kesalahan
2. Dilakukan pembinaan secara rutin.
3. Butuh teknologi yang ilmu dasar dan cara kerjanya mudah dipahami. Di Indonesia kita terlalu memahami bagian cabang, bukan akarnya. Padahal yang penting adalah di akar masalahnya

KESIMPULAN :

Semua permasalahan terkait kesejahteraan petani tidak semua bisa disamaratak

Kesejahteraan tiap individu petani tentu berbeda tergantung pada permasalahan yang dihadapi. Solusi yang mudah diterapkan, cepat dan berpihak kepada petani tentu akan menjadi solusi yang terbaik. “Petani adalah Pahlawan Pangan”. Pahlawan yang memberi kita makan dan membantu menjaga keberlangsungan hidup di bumi. Sebuah langkah kecil dan mudah diterapkan akan berdampak terhadap kesejahteraan petani, walaupun hal tersebut tidak langsung dirasakan oleh petani tersebut. Apresiasi kecil yang bisa kita lakukan adalah dengan menghabiskan makanan dan tidak membuang-buangnya. Terlepas dari permasalahan modal,lahan maupun teknologi sebuah apresiasi ini penting agar jasa Pahlawan Pangan ini tidak begitu saja dilupakan.

Referensi:

Hasil Kajian KASURA 1.0 (Kajian Seru Agrapana) bersama massa kampus

Dewi,I.A.L.,dan Sarjana, I.M.2015.”Faktor-Faktor Pendorong Alihfungsi Lahan Sawah Menjadi Lahan Non-Pertanian”.Jurnal Manajemen Agribisnis, 3(2). .

Supriatna,A.2003.”Aksesibilitas Petani Kecil Pada Sumber Kredit Pertanian di Tingkat Desa: Studi Kasus Petani Padi di Tingkat Desa”.Balai BPPTP Badan Litbang Pertanian, 1(1): 1- 15